Cast:
-
Azusa Tomoaki
-
Natsumi Yamada
Prince of Darkness
Minggu ini
memasuki akhir musim gugur,
hawa dingin pun
menusuk sampai ke tulang. Saat
ini yang aku rasakan hanya perasaan bahagia, begitu
bahagianya sepanjang jalan aku
tidak bisa menghentikan perasaan bahagiaku rasanya aku tak mampu untuk menahan senyumku.
aku diterima bekerja disebuah cafe milik temanku dengan begitu uang hasil kerja
kerasku tersebut bisa aku tabung untuk melanjutkan ke universitas yang aku
impikan selama ini. Saat melewati jalan pulang aku berpapasan dengan seorang pria, pria bertubuh tinggi dan menggenakan kacamata
saat itu kami
tidak sengaja saling bertatap pandangan..
sesaat kemudian tanpa aku sadari aku tersenyum padanya.
Begitu aku tersenyum, pria
itu kelihatan
bingung dan menjadi sedikit salah tingkah tapi
beberapa saat setelah
itu dia membalas
senyumanku.
Paginya
lingkungan sekitar berubah menjadi putih tertutup oleh
salju. Setelah pelajaran sekolah
berakhir aku pulang bersama beberapa temanku, saat akan
membuka loker milikku aku menemukan sepucuk surat dengan amplop berwarna merah
muda, saat itu aku bertanya pada teman-temanku apakah mereka melihat seseorang
mendekati lokerku tadi, namun saying diantara mereka tidak ada yang melihatnya.
Ketika kami berjalan menuju keluar gerbang tiba-tiba aku melihat sosok seorang
pria mengintip dari arah luar gerbang sekolah, sekilas aku tidak menyadari
siapa orang tersebut kemudian aku yang penasaran akhirnya pergi untuk melihat
lebih dekat sosok tersebut. Saat aku sampai ternyata pria yang barusan aku
lihat itu orang yang kutemui dijalan kemarin, kemdian aku menanyakan
keberadaannya disini kemudian pria itu menjawab” aku hanya kebetulan
lewat..”ucapnya. dan aku percaya begitu saja, kemudian pria itu mengajakku
pulang bersama namun aku tolak dengan alas an aku telah membuat janji terlebih
dahulu pada teman-temanku yang lain. Lalu pria itu menjawab “uhm, ma’af aku
sudah lancing mengajak mu, pasti kau berpikiran aku ini laki-laki
aneh..”ucapnya dengan wajah sedikit memerah. Kemudian pria itu langsung pergi,
tiba-tiba karena merasa bersalah aku memanggilnya dan berkata” bagaimana kalau
besok..”ucapku sambil tersenyum. Kemudian pria itu sedikit kaget dengan
perkataanku barusan, “baiklah.., besok aku akan kemari lagi”jawabnya sambil
melemparkan senyumannya padaku. Sore harinya setelah bermain dari rumah
teman tanpa sengaja aku melihat pria itu sedang akrab berbicara dengan para
siswi SMA lain, aku ingin menyapanya tapi tidak enak langsung menerobos
pembicaraan mereka akhirnya aku tunggu setelah ia selesai bicara, saat mereka
usai bicara lagi-lagi langkahku terhenti. Pria itu memasuki salah satu tempat
kursus dan lagi-lagi aku tidak enak menyapanya tampaknya ia begitu
terburu-buru, sampai pada akhirnya aku menunggunya di luar gedung sampai ia
selesai. 3 jam berlalu.. aku terus menunggunya di tempat ini dan beranjak
sebentar untuk mebeli kopi hangat yang menemaniku ditempat ini. Kemudian aku
mendengar ada suara hentakan kaki mendekat saat aku menoleh kesamping dia sudah
berada didekatku.
“kau..??”kagetnya melihat keberadaanku
“akhirnya anda keluar juga..” ucapku dengan wajah
memerah karena kedinginan
“sedang apa disini? “jawabnya
“sedang menunggu anda..”jawabku tersenyum
“ah, a,apa, menungguku??, sudah berapa lama menungguku
disini ?”tanyanya panik
“dari awal anda masuk tempat ini sampai
sekarang..hhehe”jawabku sambil tertawa kecil menahan malu
“APA! Jadi kau disini sudah 3 jam!”kagetnya
“uhm”anggukku sambil memegang 2 kaleng kopi hangat
yang kubeli di mesin penjual
otomatis barusan
“ha..h ya ampun…” ucapnya sambil menghela nafas
panjang
“ini ambillah satu.. tadi kupikir jika masih lama aku
akan meminum keduanya..”ucapku sambil meyodorkan kopi yang masih hangat pada
pria itu
“seharusnya
aku yang melakukan ini..”ucapnya dengan wajah merasa bersalah.
“tak
apa.. lagipula ini hanya sekaleng kopi kok..”ucapku tersenyum.
“baiklah,
ini sudah hampir larut malam, sebaiknya kita pulang..”ajaknya sambil melepas switter
merah tua yang ia kenakan
“ini
pakailah..”ujarnya
“ti,tidak
usah.. aku sudah..”
“sudah
tidak apa-apa..”ucapnya yang kemudian memasangkannya padaku.
Dan percakapan
itu berlangsung selama kami dalam perjalanan pulang.
“sebenarnya apa yang membuatmu sampai senekat
itu..”Tanya pria itu
“aku hanya penasaran saja..”
“eh penasaran?”
“sebenarnya apa yang anda lakukan ditempat
tadi..?”tanyaku
“jadi kau penasaran karena itu.., kenapa tidak
menanyakannya langsung padaku tadi, jadikan kau tidak perlu sampai menunggu
lama diluar.”
“tadinya juga begitu, tapi aku melihat anda terburu-buru
mungkin sebaiknya aku menunggu saja..”
“sebenarnya aku adalah seorang guru les..”
“benarkah? berarti dugaanku benar dong..”
“sebenarnya itu kerja sampingan saja, selain guru les
aku juga seorang mahasiswa..”
“eh, anda mahasiswa juga?”
“iya, memang aneh kedengarannya..”
“nggak aneh kok tapi berkesan…”
“be,berkesan…”
“iya, jarang-jarang loh orang yang melakukan hal
seperti itu.., kebanyakan dari mereka belum tentu mau melakukan hal seperti
anda. Sepulang dari kuliah kemudian bekerja sampai malam.”jawabku sambil
tersenyum
“e.. terima kasih.."
"kau juga sepertinya kau orang yang pekerja
keras"
"ah, tidak juga.. aku hanya melakukan apa yang
ingin aku lakukan dan mewujudkan impian dengan usaha dan kerja
kerasku."ucapku dengan
penuh semangat
" Hhaha.., kau terlihat begitu bersemangat
sekali, kalau begitu aku akan mendukungmu.." ucapnya sambil tersenyum
padaku
"hm.." sekilas aku terpana oleh senyumannya
"ma’af.. ya, karena sudah membuatmu menunggu lama
tadi..”
“ah,bu,bukan salah anda kok, itu kemauan ku sendiri.. anda tidak perlu meminta ma’af padaku,
aku jadi merasa tidak enak pada anda..”
Jalanan yang panjang tidak terasa telah kami lalui,
dinginnya hawa udara disekitar dalam sekejap hilang dan berganti menjadi pembicaraan yang
hangat
“oh iya aku belum tahu nama anda? Perkenalkan namaku
Natsumi Yamada”ucapku sambil mengajaknya
berjabat tangan
“e, aku Azusa Tomoaki ..”ucapnya. sesaat dia memandangiku kemudian dia membalas jabat tanganku
“Azusa
sensei
sepertinya kita harus berpisah disini.., arah rumahku disebelah sana”ucapku
“ah, I,iya.. apa
perlu aku antar samapai rumah?”tawarnya
“ah,
tidak usah.. lagipula jaraknya dekat kok dari sini.., , kalau begitu sampai jumpa
besok..” jawabku sambil
melambaikan tangan
“hm,sampai
jumpa..” ucap Azusa
sambil membalas lambaian tanganku
Beberapa
hari ini kami tidak pernah bertemu lagi, kupikir mungkin Azusa sensei sedang
sibuk dan ini sudah genap 1 minggu kami tidak bertemu. esoknya saat dalam
perjalanan pulang kala itu matahari senja tampak indah menghiasi awan aku
berpapasan dengan Azusa sensei saat itu arah perjalanan kami berlawanan dan dia
tidak menyadari keberadaanku disana, dia terus berjalan dengan pandangan kosong
sambil menunduk kebawah wajahnya pun tampak murung dan merasa seperti terbebani.
Kemudian aku menyapanya sambil menepuk pundaknya. Kemudian Azusa sensei pun
kaget, mungkin karena aku terlalu keras menepuk pundaknya.
“natsumi
san..”
“ah,
maaf membuat anda kaget..”
“syukurlah...”gumamnya
“eh?
Ada apa Azusa sensei, Azusa sensei terlihat berbeda dari biasanya ?”
“ah,
tidak, aku baik-baik saja, ma’af aku tadi sedang melamun sampai-sampai aku
tidak menyadari keadaan disekitarku..”
“uhm..
sensei sedang ada masalah?, mungkin aku bisa membantu, yah walau aku ini bisa
dibilang tidak terlalu bisa diandalkan sih.. khehhee..?”ucapku
“aku
tidak apa-apa.., terima kasih karena sudah mengkhawatirkan ku.., sebaiknya kau
cepat pulang kalau tidak nanti kau bisa kemalaman sampai dirumah..”
“hm..,
anda benar tidak apa-apa?”ucapku
“yah..,
terima kasih sudah mengkhawatirkanku.., sekarang aku harusburu-buru, sampai
nanti” ucapnya sambil tersenyum tipis
“uhm,
sampai nanti, hati-hati dijalan..”jawabku
Tiba-tiba
baru beberapa langkah aku beranjak dari tempat itu aku mendengar suara keras
dari belakangku, saat aku memalingkan wajahku betapa terkejutnya aku saat itu
aku melihat sensei tergeletak lemah tak sadarkan diri diatas tumpukan salju.
“SENSEI!”teriakku
panik
Kemudian
aku berlari menghampirnya
“Azusa
Sensei! Sadarlah!”ucapku sambil berusaha membangunkannya, namun berapa kalipun
aku membangunkannya Azusa sensei tak kunjung bangun, disana hanya ada kami
berdua dan disaat genting seperti itu aku justru bingung apa yang harus aku
perbuat. Aku cengeng dan hanya bisa menangis..
Beberapa
saat kemudian
“na..natsumi...pe..pergi..”ucap
sensei dengan kondisi setengah sadarkan diri
“mana
mungkin aku pergi meninggalkan sensei dalam kondisi seperti ini..”jawabku
Setelah
itu berikutnya aku tidak
bisa mendengar perkataan yang keluar dari mulut Azusa sensei
“sensei
bilang apa?, aku tidak bisa mendengarnya?”jawabku kemudian aku mendekatkan
wajahku padanya, kejadian itu begitu cepat.., sensei kemudian menarikku
sehingga aku terjatuh di atas nya. Beberapa saat kemudian aku merasa seperti
ada benda tajam menancap di leherku. Aku merasakan nafas sensei begitu dekat
dengan leherku, jantungnya berdebar begitu cepat begitupun dengan jantungku dan
aku juga merasakan dahaga yang tertahankan lagi.
"UHM...gluk..gluk"dia begitu lahap meminum darahku hingga kerah
bajuku berubah menjadi merah terkena bercak darah yang begitu mengalir deras
dari leherku.., Astaga ini bukan mimpi tapi seperti mimpi aku mencoba bangkit
namun sensei mendekapku begitu kuat, rasanya sekujur tubuhku seperti membeku,
rasa nyeri di bagian leher sudah tak tertahankan lagi. Perlahan-lahan tubuhku
mulai melemah semua pandanganku memudar hingga aku tenggelam dalam kegelapan di
tengah dinginnya salju. Kini aku telah terjebak dalam sangkar sang pangeran
kegelapan.
Saat
aku sadarkan diri aku mendapatkan diriku sedang berada di dalam kelas. Sesaat
aku berpikir bahwa yang aku alami barusan adalah benar mimpi namun rasa nyeri
dibagian leher kananku tidak dapat membohongiku. Perlahan angin berhembus dari
luar jendela kelas yang terbuka lebar dan saat itu juga aku mendapatkan sepucuk
surat dengan amplop yang sama dengan surat yang aku temukan dilokerku waktu
itu. Perlahan-lahan kemudian aku membuka amplop yang berisikan surat tersebut,
isi surat tersebut tak lain adalah..
“ma’afkan aku yang telah membawamu ke dalam lingkaran kegelapan. tiada maksud
apa-apa sebelumnya, saat pertama kali kau melemparkan senyum kosong itu
padaku.. aku jadi ingin mengenalmu lebih dekat, tapi saat aku mulai
mengenalmu lebih dekat aku malah menghancurkanmu. aku berharap kau tidak akan pernah mema’afkanku.. selamat tinggal.” Saat
itu air mataku tidak bisa berhenti, aku merasakan sayapku seperti patah
sebelah. Seharusnya aku membencinya karena telah meberiku luka yang teramat
dalam. Tapi perasaan ini mampu mematahkan semuanya. Saat surat yang dikirimnya
pertama kali untuk ku yang berisi “ aku
harap aku bisa mengenalmu..” aku berharap aku bisa bahagia begitu
mengenalnya, tapi ketika perasaan itu datang dia malah pergi meninggalkan
semuanya, dan meninggalkan semua beban perasaan ini sendirian.
Malam
itu aku tidak langsung pulang kerumah, aku menerima beberapa kali panggilan
orang rumah yang mencoba menghubungi ponselku tapi aku menghiraukannya. Aku
yang hidup dalam keluarga yang memperlakukan ku seperti di neraka,
sebaiknya aku ikut menghilang dengan begitu aku bisa menemui kedua orang tuaku
di alam sana dan hidup berbahagia. Malam yang begitu dingin dengan hawa menusuk
sampai ke dalam tulang rasanya darah dalam tubuhku perlahan-lahan mulai membeku
dan angin yang menerpa menusuk sampai kedalam pori-pori kulit ku, dengan udara
sekitar yang sudah seperti racun bagiku, aku sudah tidak sanggup berjalan lebih
jauh lagi.. semuanya putih dalam sekejap semuanya berubah menjadi gelap dan
pekat dan aku terjatuh dalam tumpukan salju yang sudah seperti
jarum-jarum kecil menusuk tubuhku.
Kemudian
aku mendengar suara yang tak terdengar asing lagi bagiku semakin lama suara itu
semakin dekat..,”Natsume..sadarlah”begitulah suara itu memanggil jiwaku
yang hampir pergi meninggalkan jasad yang rapuh ini, selanjutnya aku merasakan
belaian lembut yang jatuh diwajahku yang kian memucat. Saat aku tersadar aku
mendapatkan Azusa menatapku dengan mata merah yang penuh dosa. Setelah itu yang
ku ingat hanyalah kata-kata terakhirnya “apa kau ingin ikut bersama
ku..?”.kemudian aku menjawab dengan mata bergelinangan air mata "bawa aku
pergi bersama mu Azusa sensei.." itulah kata kata terakhir yang aku ucapkan
padanya, sebelum aku menjadi sosok diriku yang lain.. yaitu sang ratu kegelapan
dalam balutan gaun hitam dengan kulit seputih salju dan mata semerah darah yang
penuh dengan dosa. kini aku resmi sepenuhnya menjadi miliknya yaitu menjadi
pendamping abadi sang pangeran kegelapan, yang mengancam kehidupan malam.
THE
END